Model Pembelajaran
Learning Together
Learning together merupakan model pembelajaran kooperatif yang dilakukan dengan
cara mengelompokkan peserta didik yang berbeda tingkat kemampuan dalam satu
kelompok (Sani, 2013:191). Metode ini dikembangkan dan diteliti oleh David dan
Roger Johnson beserta rekan-rekan mereka di University of Minnetosa. Metode-metode
mereka menekankan pada empat unsur (Johnson, Johnson,
Houlubek, dan Roy,1984):
1. Interaksi tatap muka: para siswa bekerja sama dalam
kelompok-kelompok yang beranggotakan empat atau sampai lima orang.
2. Interdepensi positif: para siswa bekerja sama untuk mencapai
tujuan kelompok.
3. Tanggung jawab individual: para siswa memperlihatkan bahwa mereka
secara individual telah menguasai materinya
4. Kemampuan-kemampuan interpersonal dan kelompok kecil: para siwa
diajari mengenai sarana-sarana yang efektif untuk bekerja sama dan
mendiskusikan seberapa baik kelompok mereka bekerja dalam mencapai tujuan
mereka (Slavin, 2009:250)
Slavin (2009:48-56)
menyatakan bahwa, "Model learning together dari pembelajaran
kooperatif ala David dan Roger Johnson mungkin merupakan yang paling banyak
digunakan dalam semua metode kooperatif dan telah dievaluasi dalam dalam
sejumlah besar kajian. Kajian-kajian terhadap model learning together tanpa tanggung jawab individual membuahkan hasil
yang sering kali berbeda-beda".
Salah satu kajian yang
dilakukan oleh Johnson, Johnson, Scott dan Ramolae menemukan tidak ada
perbedaan. Serangkaian kajian di Nigeria yang dilakukan oleh Peter Okebuka
menemukan beberapa pengaruh positif dan negatif dibandingkan dengan kondisi
individualistik dan kompetitif. Model learning together adalah model
pembelajaran yang melatih keterampilan sosial siswa, melatih keberanian dan
melatih bekerja sama dalam sebuah
kelompok serta melatih menyajikan suatu informasi dalam bentuk bahasa tulisan
yang bergaya media cetak (koran atau majalah).
Pengalaman belajar dan
hasil belajar siswa terutama ranah psikomotor dan afektif namun ranah kognitif
siswa juga terangkum didalamnya, karena siswa juga belajar tentang konsep
keilmuannya. Model pembelajaran learning together merupakan salah satu
model pembelajaran kooperatif dengan penggunaan kelompok pembelajaran heterogen
dan menekankan terhadap interdependensi positif (perasaan kebersamaan),
interaksi face to face atau tatap muka yang saling mendukung, saling
membantu dan saling menghargai, serta tanggung jawab individual dan kelompok
kecil demi keberhasilan pembelajaran. Ciri interdependensi positif pada model
pembelajaran learning together siswa ditekankan bagaimana dapat mencapai
tujuan kelompok. Tujuan kelompok dapat tercapai apabila komunikasi yang baik
antar siswa dalam proses pembelajaran. Sedangkan interaksi tatap muka memiliki
keuntungan untuk mempermudah komunikasi antar siswa sehingga
informasi-informasi yang diperlukan dalam proses pembelajaran diterima dengan
baik. Selanjutnya, tanggung jawab individual ditujukan agar setiap siswa telah
dapat menguasai materi atau konsep sebelum diskusi kelompok berlangsung,
sehingga saat diskusi proses bertukar informasi dapat berjalan secara aktif.
Kelompok kecil yang
terdapat pada learning together memberikan kemudahan pembagian tugas
kepada masing-masing siswa dalam kerja kelompok, sehingga semua siswa dapat
berpartisipasi dalam diskusi kelompok. Penggunaan kelompok pembelajaran
heterogen dan penekanan terhadap interdepensi positif, serta tanggung jawab
individual. Akan tetapi, mereka juga menyoroti perihal pembangunan kelompok dan
menilai sendiri kinerja kelompok dan merekomendasikan penggunaan penilaian tim
ketimbang pemberian sertifikat atau bentuk rekognisi lainnya. Dari penjelasan
di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran learning together adalah suatu model yang dapat meningkatkan
keaktifan dan kreativitas siswa dalam mengikuti pembelajaran yang tentunya akan
berdampak pada hasil belajar siswa nantinya.
Langkah-langkah yang
dilakukan pada pembelajaran learning together sebagai berikut:
1. Guru memberi proyek untuk dikerjakan bersama oleh tiap-tiap
kelompok.
2. Kelompok membagi tugas kepada semua anggota sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki.
3. Masing-masing anggota kelompok bekerja sesuai dengan tanggung
jawabnya untuk mencapai tujuan bersama sehingga apabila ada anggota yang
kesulitan, anggota lain wajib membantu.
4. Nilai diperoleh berdasarkan hasil kerja kelompok (Sani 2013:192).
Komentar
Posting Komentar