Ragam Bentuk Lingkungan Pendidikan

        Lingkungan pendidikan adalah tempat seseorang memperoleh pendidikan secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu, lingkungan pendidikan ada yang bersifat sosial dan material. Lingkungan pendidikan secara garis besarnya oleh Ki Hajar Dewantoro dibagi menjadi tiga yang disebut dengan Tri Pusat Pendidikan, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat, hal itu sejalan yang dinyatakan oleh Langeveld bahwa yang bertanggung jawab dalam pendidikan adalah keluarga,sekolah dan masyarakat (Tirtahardjha,2004).

1. Pendidikan dalam Lingkungan Keluarga (Lingkungan Pendidikan Informal)

        Keluarga merupakan lingkungan yang pertama dan utama bagi anak yang memberikan sumbangan bagi perkembangan dan pertumbuhan mental maupun fisik dalam kehidupannya. Melalui interaksi dalam keluarga, anak tidak hanya mengidentifikasi diri dengan orang tuanya, melaikan juga mengidentifikasikan (mensatupadukan) diri dengan kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya. Pendidikan dalam lingkungan keluarga dimulai sejak anak lahir ke dunia dari kandungan ibunya, dan berhenti apabila sang anak meninggalkan keluarga asal untuk mendirikan keluarga baru.

        Keluarga sebagai lembaga pendidikan mempunyai peranan penting dalam membentuk generasi muda. Keluarga disebut pula sebagai lembaga pendidikan informal. Pendidikan informal adalah kegiatan pendidikan yang tidak diorganisasikan sacara struktural dan tidak mengenal sama sekali penjenjangan kronologis menurut tingkatan umum maupun tingkatan keterampilan dan pengetahuan. Persyaratan credential tidak dipakai oleh karena itu tidak ada credential yang dihakkan oleh penerima maupun yang diwajibkan dari pemberi pendidikan. (Azra,1998).Keluarga secara umum merupakan suatu lembaga yang terdiri atas suami istri dan anak-anaknya yang belum menikah, hidup dalam sebuah kesatuan kelompok berdasarkan ikatan tertentu.

        Secara etimologi, menurut Ki Hajar Dewantoro (Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati. 1991) Kata keluarga berasal dari kata kawula dan warga. Kawula berarti “Abdi”, yakni hamba dan warga berarti “anggota”. Secara abdi dalam keluarga wajiblah seseorang menyerahkan segala kepentingan-kepentingannya kepada keluarga.

       Apabila ditinjau dari sosiologi, keluarga merupakan bentuk masyarakat  kecil yang terdiri dari beberapa individu yang terikat oleh suatu keturunan yakni kesatuan anatar ayah-ibu-anak, merupakan kesatuan terkecil dari bentuk kesatuan masyarakat.

        Ditinjau dari sudut pandang pedagogis, ciri khas suatu lembaga adalah bahwa keluarga itu adalah merupakan suatu persekutuan hidup yang dijalani rasa kasih sayang diantara dua jenis manusia, yang bermaksud untuk saling meyempurnakan diri, terkandung juga kedudukan dan fungsi sebagai orang tua. Jadi dapat disimpulkan bahwa suatu keluarga dapat dikatakan keluarga lengkap apabila keluarga tersebut terdiri atas ayah, ibu dan anak.

        Dari ketiga pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga tercipta karena adanya ikatan antara ayah,ibu dan anak sehingga terjalin rasa kasih sayang. 

a. Fungsi Keluarga 

        Keluarga berfungsi untuk membekali setiap anggota keluarganya agar dapat hidup sesuai dengan tuntutan nilai-nilai agama, pribadi, dan lingkungan. Demi perkembangan dan pendidikan anak, keluarga harus melaksanakan fungsi-fungsinya dengan baik dan seimbang. M.I Soelaeman (1994) mengemukakan beberapa fungsi kelurga yaitu : 

Fungsi Edukasi

        Keluarga sebagai wahana pendidikan pertama dan utama bagi anak-anaknya agar menjadi manusia yang sehat, tangguh, maju dan mandiri sesuai dengan tuntunan perkembangan waktu.

  • Fungsi Sosialisasi

        Keluarga mempersiapkan anak sebagai anggota masyarakat yang baik dan berguna kehidupan di masyarakatnya. 

  • Fungsi Proteksi

       Keluarga sebagai tempat memperoleh rasa aman, nyaman, damai dan tenteram bagi seluruh anggota keluarga.

  • Fungsi Afeksi

Keluarga sebagai tempat untuk menumbuhkembangkan rasa cinta dan kasih sayang antara sesama anggota keluarga dan masyarakat serta lingkungannya.

  • Fungsi Religius

        Keluarga berkewajiban memperkenalkan dan mengajak anak kepada kehidupan beragama dengan menciptakan iklim keluarga yang religius sehingga dapat dihayati oleh keluarganya

  • Fungsi Ekonomi

Meliputi pencarian nafkah, perencanaan, serta pemanfaatan dan pembelajarannya.

  • Fungsi Rekreasi

Keluarga harus menjadi lingkungan yang nyaman, menyenangkan, cerah, ceria, hangat dan penuh semangat.

  • Fungsi Biologis

Keluarga sebagai wahana menyalurkan reproduksi sehat bagi semua anggota keluarganya. 

b. Peranan Anggota Keluarga dalam Pendidikan Anak

Setiap anggota keluarga keluarga memiliki peranan tertentu sesuai dengan kedudukannya. Mengenai peranan anggota-anggota keluarga dalam pendidikan anak dapat diuraikan sebagai ber ikut: 

  1. Peranan Ibu

        Ibu memegang peranan penting dalam mendidik anak-anaknya. Sejak dilahirkan ibulah yang selalu disampingnya, memberi makan, minum mengganti pakaian dan sebagainya. Oleh karena itu kebanyakan anaka lebih cinta kepada ibunya dari pada anggota keluarga lainnya. Ibu dalam keluarga merupakan orang pertama kali berinteraksi dengan anaknya, ia merupakan orang pertama kali dikenal anaknya. Dari seorang ibu diharapkan ia mengahdapi anaknya dengan penuh kasih sayang, sehingga dikatakan bahwa “ibu berperan sebagai lambang kasih sayang”.

    Ngalim Purwanto (2004:82) mengatakan bahwa sesuai dengan fungsi serta tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, dapat dijelaskan bahwa peranan ibu dalam pendidikan anak-anaknya adalah sebagai berikut:

1) Sumber dan pemberi rasa kasih sayang

2). Pengasuh dan pemelihara

3) Tempat mencurahkan isi hati

4). Pengatur dalam kehidupan berumah tangga

5). Pembimbing hubungan pribadi

6). Pendidik dalam segi-segi emosional.

2. Peranan Ayah

        Di samping ibu, ayah pun mempunyai peranan yang tidak kalah pentinya terhadap pembentukan keperbadian anak. Anak memendang ayahnya sebagai orang yang gagah, paling berani, paling perkasa. Kegiatan yang dilakukan ayah dalam pekerjaan sahari-hari sangat berpangaruh besar kepada anak-anaknya.

Menurut ngalim purwanto (2004 : 83) peranan ayah dalam pendidikan anak-anaknya adalah sebagai berikut:

1) Sumber kukuasaan dalam keluarga

2) Penghubung intern antara keluarga dengan masyarakan atau dunia luar

3) Pemberi rasa aman bagi seluruh anggota keluarga

4) Pelindung terhadap ancaman dari luar

5) Hakim atau yang mengadili jika terjadi perselisihan

6). Pendidik dalam segi-segi rasional.

Jadi seorang ayah hendaknya memiliki kesadaran bahwa ia turut bertanggung jawab dalam penjagaan, perawatan, dan pemeliharaan serta pendidikan anak-anaknya itu bersama dengan seorang ibu. 

  • Karakteristik Lingkungan Pendidikan Informal (Keluarga) 

Lingkungan pendidikan keluarga tergolong jalur pendidikan informal, adapun karakteristinya antara lain:

  1. Tujuan pendidikannya lebih menekankan pada pengembangan karakter.
  2. Peserta didiknya bersifat heterogen
  3. Isi pendidikannya tidak terprogram secara formal/ tidak ada kurikulum tertulis
  4. Tidak berjenjang.
  5. Waktu pendidikannya tidak terjadwal secara ketat, relatif lama
  6. Cara pelaksanaan pendidikan bersifat wajar
  7. Evalusai pendidikan tidak sistematis dan insidental
  8. Credential tidak ada dan tidak penting.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Media Pembelajaran

Ragam Bentuk Lingkungan Pendidikan