BAB II
PEMBAHASAN
2.4 Latar Belakang Munculnya Khemotaksonomi
Keanekaragaman hayati dapat didekati dengan metode yang biasa digunakan dalam taksonomi. Secara tradisional keanekaragaman hayati dideteksi melalui ciri morfologi, sebagaimana taksonomi yang berkembang selama ini. Akan tetapi adanya variasi makhluk hidup tidak selamanya dapat diidentifikasi dan dikarakterisasi melalui pendekatan morfologi saja, mengingat sedikitnya ciri yang dapat ditampilkan, adanya pengaruh lingkungan dan plastisitas fenotipe. Walaupun ciri morfologi sudah lama dipergunakan para ahli dalam pendeterminasian, pencirian dan penggolongan makhluk hidup tetapi ternyata masih banyak masalah yang belum diperinci, diterapkan dan dipecahkan secara sempurna oleh ciri ini.
Sesuai dengan kemajuan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka ciri-ciri makhluk hidup yang pada mulanya tidak dapat diamati dengan mata telanjang seperti ciri anatomi, sitologi, kandungan zat kimia, dan lainnya kemudian dapat dipertimbangkan sebagai dasar dalam mengadakan klasifikasi. Taksonomi yang sempurna boleh jadi mensyaratkan penelitian atas semua ciri yang ada, baik morfologi, anatomi, fisiologi, biokimia, palinologi, sitologi, sitogenetika dan lain-lain.
Kemajuan ilmu kimia semakin banyak mengungkapkan zat-zat yang terkandung dalam makhluk hidup atau organ-organnya yang menyebabkan timbulnya usaha agar klasifikasi didasarkan pula atas kesamaan atau kekerabatan zat-zat kimia yang terkandung di dalamnya. Inilah yang merupakan awal dan landasan bagi terciptanya suatu sistem klasifikasi yang dinamakan kemotaksonomi. Kemotaksonomi mempelajari ciri-ciri kandungan kimia yang dapat digunakan sebagai ciri tambahan pada identifikasi atau klasifikasi makhluk hidup. Ciri-ciri kimia dapat digunakan sebagai penunjang, penjelasan atau untuk penegasan dalam mempelajari taksonomi dan ada kalanya dapat juga digunakan sebagai alat koreksi dalam usaha penataan suatu sistem klasifikasi.
Ciri kimia memiliki kelebihan daripada ciri morfologi dan anatomi, karena bahan yang dianalisis tidak harus segar dan lengkap. Bahan kering dan remuk sekalipun dapat dianalisis dan ditempatkan secara tepat dalam sistem klasifikasi, selama tidak ada kontaminasi mikrobia atau bahan lain. Spesimen herbarium berumur ratusan tahun tetap dapat diuji kandungan metabolit sekundernya dengan tepat. Penggunaan kemotaksonomi telah dipraktekkan oleh manusia sejak dulu untuk mengenal dan mengelompokkan tumbuhan berdasarkan rasa, bau, warna dan lainnya. Kemotaksonomi muncul didasari oleh konsep pemikiran Linnaeus pada abad ke-18 yang menyatakan bahwa makhluk hidup pada umumnya dan tumbuhan khususnya yang mempunyai ciri morfologi yang mirip pada umumnya juga mempunyai kandungan zat kimia yang mirip. Namun begitu, antara tumbuhan satu dengan lainnya tidak akan memiliki kandungan kimia yang semuanya persis sama, pasti terdapat salah satu atau beberapa zat kimia yang khas untuk masing tumbuhan tersebut.
2.5 Pengertian Khemotaksonomi
Sebelum kita melihat pengertian khemotaksonomi mari kita lihat terlebih dahulu tentang pengertian Taksonomi karena kedua ilmu ini sangat berkaitan dalam ilmu klasifikasi tumbuhan. Taksonomi → berasal dari bahasa Yunani, tassein berarti mengelompokkan, nomos berarti aturan Taksonomi dapat diartikan adalah suatau cabang ilmu yang mempelajari identifikasi, tata nama, dan klasifikasi, yang biasanya terbatas pada objek biologi, bila terbatas pada tumbuhan sering disebut sistematik tumbuhan. Unsur utama yang menjadi lingkupnya taksonomi tumbuhan adalah pengenalan yang didalamnya tercakup pemberian nama dan penggolongan. Sistematik diberi batasan sebagai ilmu yang secara ilmiah mempelajari tentang macam-macam dan keanekaragaman organisme serta hubungan kekerabatan di antara mereka. Dengan batasan demikian, beberapa ahli menganggap bahwa sistematik mempunyai cakupan yang lebih luas daripada taksonomi.Ilmu taksonomi tumbuhan mengalami banyak perubahan cepat semenjak digunakannya berbagai teknik biologi molekular dalam berbagai kajiannya. Pengelompokan spesies ke dalam berbagai takson sering kali berubah-ubah tergantung dari sistem klasifikasinya.
Taksonomi tumbuhan adalah ilmu yang mempelajari penelusuran, penyimpanan contoh, pemerian, pengenalan (identifikasi), pengelompokan (klasifikasi), dan penamaan tumbuhan. Ilmu ini merupakan cabang dari taksonomi.Karena teknologi yang lebih maju telah dapat mengamati bagian tersebut misalnya ciri-ciri anatomi, kandungan zat-zat kimia dan lain-lain.Setelah lahirnya teori evolusi muncul sistem filogenentik yang mencita-citakan tercerminnya jauh dekatnya hubungan kekerabatan antara golongan tumbuhan yang satu dengan golongan tumbuhan yang lain serta urutannya dalam sejarah perkembangan filogenetik tumbuhan. Kemajuan dalam ilmu kimia dapat mengungkap zat-zat apa saja yang ada dalam tumbuh-tumbuhan yang menyebabkan timbulnya saran agar pengklasifikasian tumbuhan juga didasarkan pada kesamaan atau kekerabatan zat-zat kimia yang terkandung di dalamnya, Sehingga terbentuk suatu aliran atau cabang dalam taksonom tumbuhan yang disebut kemotaksonomi.
Kemotaksonomi (Chemotaxonomy) berasal dari kata chemo dan taxonomy. Kata Chemo(Kemo) merujuk pada senyawa kimia yang dimiliki oleh makhluk hidup sedangkan taxonomy (taksonomi) ialah ilmu tentang teori-teori klasifikasi, pencirian dan penamaan makhluk hidup. Secara singkat, kegiatan taksonomi mencakup dasar-dasar pencirian, tata cara pengenalan dan hukum-hukum penamaan serta asas-asas pengaturan makhluk hidup dalam golongan atau kelasnya secara ideal. jadi Khemotaksonomi adalah klasifikasi tumbuhan-tumbuhan berdasarkan pada kesamaan atau kekerabatan zat-zat atau senyawa kimia yang terkandung di dalam tumbuhan tersebut. Dalam perkembangan terbaru, istiah kemotaksonomi lebih ditekankan pada usaha untuk mengetahui hubungan kekerabatan di antara organisme makhluk hidup berdasarkan senyawa kimianya. Untuk hal tersebut maka kemotaksonomi seringkali disebut juga dengan kemosistematik. Kedua istilah ini kadangkala dipergunakan secara bergantian untuk maksud dan makna yang sama. Kemotaksonomi kadang kala disebut juga sistematika biokimiawi yang didefinisikan sebagai aplikasi penggunaan data kimiawi untuk memecahkan masalah-masalah taksonomi makhluk hidup.
2.6 Contoh-contoh Khemotaksonomi
- Tumbuhan Mengandung kurkumin
kurkumin adalah suatu zat kimia tang terkandung dalam suatu tanaman yang berguna untuk memberi warna kuning pada makanan.contoh-contoh tumbuhan yang mengandung kurkumin sebagai berikut:
- Kunyit (curcuma domestica)

Kunyit ( curcuma domestica ) adalah tanaman asli dari asia tenggara yang tumbuh subur di indonesia kunyit mempunyai Genus curcuma, famili Zingiberacea dan ordo Zingiberales, disebut curcuma karena mengandung zat kimia kurkumin, Rahasia dari kunyit adalah mengandung senyawa kimia kurkumin yaitu zat pewarna kuning yang terdapat pada rimpang kunyit (Curcuma Domestica). Kurkumin ini memiliki fungsi yang sangat penting dalam mengobati berbagai penyakit karena senyawa tersebut dapat berfungsi sebagai anti tumor promoter, antimikroba, antioksidan, anti virus dan anti radang. Kurkumin pada Curcuma Domestica juga berperan dalam meningkatkan system imunitas tubuh.
-Temulawak (curcuma xanthorriza)
Temulawak (curcuma xanthorriza) adalah tanaman yang merupakan famili Zingiberace, Genus curcuma dan ordo Zingiberales dan merupakan tanaman asli indonesia, temulawak merupakan sumber bahan pangan , pewarna, bahan baku industri (seperti kosmetika) disebut curcuma karena mengandung zat kimia kurkumin.Temulawak mengandung senyawa kimia kurkumin dan selain kurkumin temulawak juga mengandung minyak asiri,fraksi pati ,glucosida, phellandrene, turmerol, myrcene, xanthorrihizol, isofuranogermacreene, p-tolyletycarbinol, tepung.kurkuminoid pada temulawak berguna sebagai obat anti radang anti sembelit dan juga sebagai obat sakit maag.
-Temu ireng/temu hitam (curcuma aeruginosa)

Temu ireng/temu hitam (curcuma aeruginosa) adalah merupakan famili Zingiberace Genus curcuma dan ordo Zingiberales disebut curcuma karena mengandung zat kimia kurkumin,temu ireng juga mengandung senyawa kimia curcumin dan juga minyak asiri,polifenol,saponin, protein yang berkhasiat juga antara lain untuk mengobati penyakit kulit.
-Tumbuhan mengandung Capsein
Capsein adalah suatu zat kimia memberikan rasa pedas pada tumbuha-tumbuhan yang mengandung capsein selain memberikan rasa pedas capsein juga dapat menambah nafsu makan. contoh-contoh tumbuhan yang mengandung kurkumin sebagai berikut:
-Cabe merah (
Capsicum Annuum )
Cabe merah (Capsicum Annuum ) adalah tanaman yang merupakan famili Solanaceae, ordo solanales,genus Capsicum dan species Annuum ,cabe merah mengandung zat senyawa kimia yaitu capsein, dihidrokapsaisin, vitamin (A, C), damar, alkaloid atsiri, zat warna kapsantin, karoten, kapsarubin, zeasantin, kriptosantin, clan lutein. Selain itu, juga mengandung mineral, seperti zat besi, kalium, kalsium, fosfor, dan niasin.cabe merah mempunyai nama ilmiah capsicum karena di dalam cabe merah mengandung zat kimia capsein yaitu dimana zat yang berkhasiat sebagai stimulan. Jika seseorang mengkonsumsi capsein terlalu banyak akan mengakibatkan rasa terbakar (pedas) di mulut dan keluarnya air mata.
-cabe rawit (
Capsicum frutescens)
cabe rawit (Capsicum frutescens) adalah yang merupakan yang famili Solanaceae, ordo solanales,genus Capsicum dan species frutescens,kandungan kimia pad cabe rawit sama seperti cabe merah yaitu capsein, dihidrokapsaisin, vitamin (A, C), damar,alkaloid atsiri, zat warna kapsantin, karoten, kapsarubin, zeasantin, kriptosantin, clan lutein. cabe rawit mempunyai nama ilmiah capsicum karena di dalam cabe rawit juga mengandung zat capsein yaitu zat yang memberikan rasa pedas dan mempunyai khasiat stimulun dan juga sebagai untuk melancarkan aliran darah serta pemati rasa kulit dan antibiotik.perbedaan cabe merah dan cabe rawit hanya terletak pada umur nya saja, cabe merah memiliki umur setahun sedangkan cabe rawit lebih dari setahun.
-
Tumbuhan mengandung alkaloid kinin(kinine)
- kina (
chincona succirubra)
- kina (chincona succirubra) adalah tanaman yang merupakan famili Rubiaceae,ordo Rubiales, genus chincona dan species succirubra, kina diberi nama ilmiah chincona karena kulit pohon kina mengandung senyawa kimia kinin(kinine) yaitu zat yang berguna untuk mencegah, mengobati, mengendalikan penyakit malaria.
-Tumbuhan mengandung aliin
- Bawang putih(
Allium sativum)
Bawang putih(Allium sativum) adalah tanaman yang merupakan famili Alliaceae,ordo Asparagales,genus Allium dan species sativum.bawang putih disebut Allium karena bawang putih mengandung senyawa kimia aliium yaitu senyawa kimia yang menyebabkan bawang putih memiliki aroma dan rasa yang spesifik dan juga sebagai anti bakteri dan anti biotik.
-Tumbuhan mengandung Kafein
- Kopi arabica
(Coffea arabica)
Kopi arabica (Coffea arabica) adalah tanaman yang merupakan famili Rubiaceace,ordo gentianale,genus coffea dan species arabica.kopi disebut nama ilmiah coffea karena kopi mengandung zat kimia kafein, Kafein yaitu senyawa kimia yang dapat meningkatkan konsentrasi,kecanduan dan dapat meningkatkan itensitas detak jantung.
-Tumbuhan mengandung cannabinin
-Ganja (Cannabis sativa)
Ganja (
Cannabis sativa) adalah
tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat
narkotika,Ganja mempunyai famili
Cannabaceae,ordo
Urticale,genus
Cannabis dan species
sativa.disebut nama ilmiah nya
cannabis karena ganja mengandung zat kimia
cannabinin yaitu zat kimia yang dapat membuat pemakainya mengalami
euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab) ,sebagai obat untuk penyakit kanker dan juga dapat menambah nafsu makan.
-Tumbuhan mengandung zingeron
-Jahe ( Zingiber officinale )
Jahe ( Zingiber officinale ) adalah tanaman yang merupakan famili Zingiberaceae, ordo Zingiberales,genus Zingiber dan species officinale. disebut nama ilmiah nya Zingiber karena djahe mengandung senyawa kimia zingeron yaitu senyawa kimia yang mengandung rasa dominan pedas,yang berguna juga untuk antioksidan,kanker dan untuk menurunkan kolestrol. jahe juga mengandung senyawa oleoresin (gingerol, shogaol), dan juga senyawa paradol.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
Khemotaksonomi adalah klasifikasi atau identifikasi tumbuhan-tumbuhan berdasarkan pada kesamaan atau kekerabatan zat-zat atau senyawa kimia yang terkandung di dalam tumbuhan tersebut. Khemotaksonomi sangat berguna bagi kehidupan karena bertujuan untuk memudahkan pengenalan, identifikasi, pengelompokan dan penyederhanaan pembahasan tentang objek-objek tumbuhan yang dipelajari yang jumlahnya sedemikian banyak.sehingga karna itu dapat dimanfaatkan kandungan kimianya tersebut sebagai obat dan lain-lain.
Daftar Pustaka
Tjitrosoepomo, Gembong.2005. Taksonomi Tumbuhan,yogyakarta: Gajah mada university
Suratman, dkk.2011.Buku Ajar Kemotaksonomi,Surakarta:Universitas Sebelas Maret
Siswadi. 2006. Tanaman Obat,Yogyakarta:PT Citra Aji Permana
Lukas,Tersono adi.2006. Tanaman Obat,Jakarta: PT Agro media Pustaka
Harsono,T.2011. Taksonomi Tumbuhan Tingkat Tinggi, Medan:FMIPA Unimed
Amin,A.2009. Buku Ajar Farmakognosi, Makasar:Universitas Muslim Indonesia
Poedjiadi. 2009. Dasar-dasar Biokimia,Jakarta:Universitas Indonesia
Wikipedia, 2012.Taksonomi,Wikipedia
Wikipedia, 2012.Khemotaksonomi,Wikipedia
Komentar
Posting Komentar